Minggu, 09 Mei 2010

Run!





Jangan tanya bagaimana rasanya mengucapkan kalimat perpisahan dari pangkal lidahku sendiri. Karena sesungguhnya itulah hal terakhir yang ingin aku lakukan. Tapi nyatanya, ada banyak hal yang berjalan tidak seperti yang kita inginkan. Dan berbulan-bulan yang lalu, justru aku-lah yang mengucapkan kata perpisahan itu... Tapi sungguh, mengertilah... Bukan itu sesungguhnya yang menjadi inginku...

Sekarang, bolehkah aku meminta kesempatan kedua? Kesempatan agar hati kita kembali bertautan seiring dengan pertemuan kita kemarin malam? Ah, rasanya itu menjadi keinginan yang terlalu berlebihan. Lihatlah dirimu, kau tampak bahagia, TANPA AKU...

Dan aku? Aku menjalani sepi ini sendiri. Sibuk merangkai mimpi semu antara aku dan kamu. Rasanya sesak, karena terkadang kau harus merajut rindu ini sendirian tanpa ada lantunan nada rindu dari seberang sana sebagai penawar.

---------------------------

Aku menutup pintu rumahku sesaat setelah kau mengantarku kemarin malam dari sebuah ’reuni’ yang kita lakukan. Kurenungi banyak hal. Tentang rindu. Tentang kamu. Dan juga tentang kesepian yang kurasakan selama ini. Setelahnya, muncul banyak pertanyaan yang mendesak dengan begitu kuat di salah satu sudut logikaku. Kamu kah yang aku rindukan? Atau justru hanya bayangan-mu saat bersama denganku di masa lalu yang selalu aku rindukan?

Pertanyaan-pertanyaan ini semakin menjeritkan perih yang selama ini kurasakan. Sungguh aku tak pernah rela, jika ternyata diriku hanya merindukan bayang semu dirimu di masa lalu. Dan aku pun kembali menangis. Entah ini tangisan yang ke-berapa, tapi kali ini aku benar-benar merasa kalah. Kalah karena telah memenjarakan diriku untuk sebait kenangan yang hanya hidup di masa lalu.

Aku mencari banyak alasan untuk melupakanmu. Tapi seringkali aku lupa, alasan itu seharusnya sangat sederhana. Aku harus hidup untuk sekarang dan masa depan. Bukan untuk kamu di masa lalu!

Iya ma... Aku take off jam setengah sembilan malem.
Iyaaaa… gak apa-apa kok. Ya ampun ma, Tokyo kan masih di Asia juga, kalo kangen aku langsung terbang ke Indonesia deh.
Oke ma, bye... nanti kalo udah sampe aku kabarin lagi.


Dan jangan sebut ini sebagai pelarian, karena aku selalu saja gagal berlari dari sosokmu!

4 komentar:

kristiyana shinta mengatakan...

tetep melted :)
aq pun tak pernah bisa melarikan diri dari ingatan ttg masa lalu ku :(

hoedz mengatakan...

hiks ...
jangan hidup untuk masa lalunya .. tapi hidup untuk masa mu kini dan kedepanya ...

mau tanya .. ini cerpen .. ?
trus . awal ceritabya di mana .. ? aku barusan berkunjung ..

Camelopardalis A mengatakan...

"Kamu kah yang aku rindukan? Atau justru hanya bayangan-mu saat bersama denganku di masa lalu yang selalu aku rindukan?"

Hal yang sama yang menjadi pertanyaan di aku... hehehhe

ditunggu lanjutannya..... :D

pink black and blue mengatakan...

@shinta : :)

@hoedz : mungkin lebih tepatnya disebut cerita bersambung kali yah. awal ceritanya ada di postingan paling pertama dari blog ini.

@Camelopardalis A : :)

Posting Komentar