Minggu, 14 Maret 2010

Seperti Dulu




Pernakah kamu merasakan saat-saat di mana kamu mati-matian menghindari sesuatu, tapi hal yang paling kamu hindari justru menjadi hal yang paling sering muncul di harimu. Kamu berlari menghindarinya, tapi semakin cepat kamu berlari, semakin cepat pula dia mengejarmu. Di manapun kamu sembunyi, dia selalu bisa menemukanmu. Begitulah kira-kira yang sedang kualami kini. Aku diserang sesuatu yang disebut kenangan. Kenangan tentang sesosok perempuan yang selalu mengingatkanku pada semburat jingga di langit kala mentari sembunyi malu-malu.

Rindu, tak bisa kuelakkan lagi bahwa aku rindu. Kucoba mengalihkan rindu ini dengan mencoba mengisi ruang di hatiku yang belum benar-benar kosong ini dengan hati yang lain. Namun nihil. Hati baru itu tak mengusir hadirmu di pikiranku sedikitpun. Ini aneh, betapa aku dapat mengabaikan begitu saja yang ada di depan mata, dan justru terpaku pada yang telah pergi. Jangan salahkan aku. Ini pun di luar kuasaku. Pikiranku sepertinya sedang berusaha mempermainkanku. Aku jadi kesulitan membedakan yang nyata dari yang ilusi.

Seperti ketika nada dering yang hanya kugunakan untuk telepon masuk darimu tiba-tiba kembali terdengar, dibarengi dengan kemunculan sebaris namamu di layar telepon genggamku. Semuanya terasa tak nyata. Bahkan ketika kutekan tombol hijau dan menempelkan telepon itu ke telingaku pun aku masih berkali-kali melihat layar itu untuk memastikan apa benar itu memang sambungan telepon darimu. Tapi tak ada suara, maka aku kembali yakin ini memang hanya ilusi. Maka aku menyuarakan isi hatiku, walau mungkin tak benar-benar ada telinga yang mendengar di seberang sana.

“Aku kangen kamu…”

Tiga detik, hening. Tak ada balasan suara atau sekedar helaan nafas dari seberang sana. Ah, ya tentu saja. Bukankah ini hanya ilusi yang menguasai otakku. Eh, tunggu, sepertinya aku mendengar sesuatu. Suara yang sangat aku kenal.

“Aku juga… Banget..”

Telepon dimatikan. Namamu menghilang dari layar. Aku terpaku. Apakah ilusi memang sejelas ini? Aku yakin suara itu terlalu nyata untuk sebuah ilusi. Masih sibuk aku berdebat dengan diriku sendiri, sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku :

“Kalo kamu kangen aku, dan aku kangen kamu, yang kita butuhin cuma ketemu kan?”

Oke, ini nyata!

*****

Di sinilah aku, seminggu setelah telepon yang disusul pesan mengejutkan itu. Aku berdiri di depan bangunan antik di seberang museum Fatahillah, tempat yang kusebutkan di balasan pesan yang tak kau balas lagi.

Aku tidak tahu apakah kau akan muncul hari ini. Tak ada kepastian kau akan datang, tapi aku tetap datang. Dan aku akan menanti sampai siluetmu muncul di kejauhan. Mendorong pintu dan membunyikan bel yang tergantung di belakangnya. Dan aku akan berdiri dari tempatku duduk untuk menyambutmu dengan senyumku.

Seperti dulu

2 komentar:

ervitiana mengatakan...

makanyaaaaa kalo belom kosong banget hatinya, jangan diisi sama yang laen dulu. ribet kan sekarang urusannya?!
hahahhahahaahhaha

hoedz mengatakan...

duuhh .. senengnya dapet pesan singkat yg sangat singkat ..

hehehehe ..... baca lanjutannya ah ....

Posting Komentar